Posted by: Syarat Makna | January 27, 2011

Teka-Teki…(dan jawabnya adalah sesuatu yang indah)

 

Masih,,,aku dengan bagian perjalanan dan alur hidup lengkap dengan teka teki yang harus aku jawab dan selesai kan, ‘ide-ide gila’ terkadang ada saja terlintas dalam fikiranku. ‘ide gila’ untuk mencari jawaban yang tepat atas teka-teki itu, sesekali fikiranku buntu, hingga berfikir yang tidak-tidak, ah itu sudah biasa aku rasakan. Lebih baik aku teruskan saja perjalanan ini sembari berfikir susunan kata apa yang tepat aku isikan pada kotak-kotak putih yang dibatasi oleh kotak-kotak hitam dalam lembaran lembaran kertas dalam buku itu, sudah cukup rasanya istirahat untuk berteduh dan meneguk air jernih yang ada dalam ransel ku ini. Kusimpan saja buku teka-teki dan pulpen itu, sambil mengingat-ingat beberapa pertanyaan yang ada, sembari aku berjalan dan mulai melangkah, ya seperti biasa dengan tas ransel yang selalu ku bawa di punggung ku dan tak lupa pula kacamata minus dan silinderku ini, ah rasanya kalo tanpanya dunia jadi tak jelas.

Sesekali aku bertanya pada orang-orang yang kutemui di jalanan, banyak hal yang kadang aku tanyakan pada mereka, ya siapa tahu ada clue untuk menjawab pertanyaan yang tadi aku ingat-ingat, atau sekedar ingin berkenalan dengan mereka, ah apalah itu hany a untuk mengisi perjalanan ini agar tidak sepi sendiri, berbicara dan berfikir sendiri serasa tidak ada penghuni lain saja. Tapi tepatnya aku lebih bertanya di mana dan berapa jauh lagi perkampungan yang menjadi tempat tinggalku selanjutnya. ya tempat tinggalku selanjutnya.

Begitulah diriku, berpindah-pindah tempat tinggal, seperti seorang imigran yang di deportasi dari negara tinggalnya. Ah rsanya tidak seperti itu miripnya, tapi memang aku diminta untuk  pindah tempat tinggal ketika  waktu dan jatah tinggal ku habis, bukan di usir tapi memang itu yang sudah menjadi bagian cerita dan petunjuk teka-teki di buku itu. Jika ini tidak kulakuakan mana bisa aku menjawab dan menyelasikan isi buku itu.  Mungkin aku bisa menceritakan awal mula buku itu aku isi, ya mungkin aku bisa sedikit menceritakannya. Dulu saat pertama kali aku mulai mengenal buku itu lengkap satu paket dengan pulpen, penghapus, penggaris dan lainnya, aku diajari oleh seseorang yang rasanya amat mulia, pelan-pelan ia mengenalkannya padaku, mulai dari nama-nama alat itu, bagaimana cara menggunakannya. Ya awalnya ia mulai membukakan buku itu dan kemudian mengajariku membacanya huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, lama memang aku bisa menangkap petunjuknya, walaupun akhirnya aku mengerti satu persatu petunjuk dalam buku itu. Kemudian mulailah ia membacakan satu persatu pertanyaan yang ada, aku masih ingat rasanya masih sangat sederhana dan mudah jika aku mengisinya saat ini, namun pada waktu itu aku seperti sekarang, ya masih aku anggap sulit, kadang ia memberikan clue-clue dan memegang tanganku untuk menuliskan jawaban yang tepat pada teka-teki itu. Kalau tidak salah selama lima perkampungan aku tinggal bersamanya, hingga aku harus pindah meninggalkannya ke kampung yang lain, ya kampung yang baru saja aku tinggalkan. Ah jika aku mengingatnya betapa unik dan berwarna saat aku pindah dan tinggal dari kampung yang satu ke kampung yang lain, tapi ya semuanya ada cerita tersendiri bagiku, karena denga begitu aku bisa  mengerti isi buku dan teka teki itu, meski semakin sulit saja pertanyaannya, semakin kompleks.

Ya,,,saat ini aku sedang merentas jalan hidup ku, ku tata rapi-rapi setiap bagiannya, ku bawa bekal sebanyak-banyaknya agar nanti aku tak kehausan dan kelaparan. Menjawab satu demi satu teka-teki itu, dan ya berhasil..akhirnya aku bisa sampai di sini, ku buka kembali lembaran selanjutnya, oh…aku kira ini menjadi tantangan berat yang harus aku lalui, teka teki itu semakin kompleks rasanya, tapi biarlah, aku pasti bisa menjawabnya, meski semua tak semanis dan semulus yang aku inginkan. Ah cukup aku sudah lama terduduk di bawah pohon rindang itu, rasanya aku harus bergegas lagi untuk berjalan sebelum mentari mulai redup dan hari mulai gelap pekat, aku harus berjalan dan mencari tempat untuk beristirahat saat malam tiba nantinya, ya seperti biasa aku sambil mengingat beberapa tak teki itu, menyimpan buku itu, merapikan isi tasku kembali, dan memakainya di punggungku, dan tentu dengan kacamataku yang selalu menjadi teman setia kedua bola mata ini. Yap…dan aku pun mulai berjalan, semoga ada energi yang lebih besar dan kejutan indah nantinya…

 

:::Teka-teki itu indah, seindah saat aku berfikir bahwa jawabnya adalah sesuatu yang indah:::


Responses

  1. beneran atau perumpamaan?

  2. Perumapamaan……

  3. sejak kapan fikir itu fake huruf f bukan ake huruf p?

  4. sejak kapan fikir itu fake huruf f bukan fake huruf p?

  5. like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: