Posted by: Syarat Makna | January 6, 2011

Tentang Sebuah Hati…

Karena pada dasarnya hidup ini akan senantiasa membuat kita berfikir dan bergerak, melakukan semua yang menjadi alur perjalanan kita, seperti pada sebuah tulisan sebelumnya “Tentang sebuah perjalanan” bahwa akan saja terus menmepuh jalan sampai nanti perjalanan yang akan menjadi perhentian kita. Ternyata tak ada kata diam rsanya ketika kita melakukan perjalanan itu. Hidup laksana petani yang menanam padi, benih yang awalnya disemai lalu kemudian tumbuh dan besar indah menghijau menghiasi hamparan sawah sang petani, tak hanya itu ia pun mengundang hama dan gulma yang dapat membahayakan kelangsungan padi itu. Untung lah sang petani punya casra sendiri agar padi itu tetap hijau dan berbuah hingga menguning lalu kemudia bisa di panen dan akhirnya mati.

Begitulah perumpamaan hidup kita, bahwa Allah yang menjadikan kita hingga sampai saat ini nafas yang masih terhembus, Allah menjadikan kita untuk mampu menghadap ‘hama-hama’ kehidupan, karena pada dasarnya Allah sudah mendidik kita dari sejak kita lahir. Allah mengkaruniakan kita fikiran agan senantiasa mampu untuk memilih mana yang  baik atau tidak, Allah mengkaruniakan kita fisik agar mampu melakukan sesuatu saat fikiran ini merespon dunia luar sehingga memerintahkan seluruh organ untuk bergerak. Dan satu yang dahsyat yaitu Allah mengkaruniakan sbuah hati agar fikiran dan fisik bergerak atas dasar  jalan yang lurus dan mampu menjadikan semuanya begitu terarah.

Bahwa hati ini hanya kita dan Allah yang mengetahuinya, tak ada yang bisa tahu tentang hati seseorang kecuali ia sendiri. Wajah yang menjadi nampak tak menjadi jaminan isi hati sesungguhnya, hanya sikap dan perilaku yang akan menjadi cermin hati itu sendiri, seperti halnya sebuah teko yang berisi susu, maka ia akan mengeluarkan susu, terlepas bentuk dan warna teko yang indah atau mengkilau, tapi kita takkan tahu isi teko itu sebelum menuangkannya ke dalam gelas, air susu kah, atau air kopi kah atau bahkan air keras kah. Tak akan ada yang tahu…

Bahwa hati pun akan seperti cermin, saat ia dibiarkan begitu saja, maka ia akan kotor, awalnya hanya bercak hitam yang menutupinya lalu hitam itu pun menutupi cermin hingga tak ada lagi celah untuk kita bercermin, begitulah hati ia akan menjadi cermin diri kita, untuk melihat seberapa indah kah wajah ini, seberapa menkjubkannya pakaian yang kita gunakan, apa yang harus disisir dari bagian rambut ini, apa yang harus di hiasi dari wajah dan pakaian ini. Kotoran apa yang membuat wajah ini terlihat tidak indah, hingga kita tahu celah kotor yang ada di wajah dan tubuh kita. Namun saat cermin itu hitam pekat, maka tak ada lagi tempat bercermin, kita tak tahu seperti apa diri kita, hingga akhirnya kita tak mempedulikan diri kita.

Wahai diri yang memiliki hati, sadarilah bahwa hati kita ini adalah cermin diri kita, yang mestinya harus kita rawat, dibersihkan, simpan di tempat yang membuatnya mampu terjaga dari debu dan kotoran. Bahkan jangan sampai hati ini retak dan hancur berkeping-keping karena sikap kita yang ceroboh dan tak peduli dengannya.

Wahai hati yang indah untuk bercermin, katakan lah pada kami bahwa kau adalah bagian dari hidup yang tak akan terpisah dari fisik dan fikiran kami, jadikan dirimu seindah wajahmu. katakan pada kami bahwa begitu inginnya kau agar kami menjaga dirimi. Bahwa betapa ada celah kotor yang akan membuatmu menangis. Karena kau adalah cermin bagi hidup kami dalam menjemput kematian kami.

 

::: deni :::

 


Responses

  1. nyimak…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: