Posted by: Syarat Makna | November 9, 2008

Telaga Itu Aku

waktu itu lagi kuliah AI, deni duduk di depan seperti biasanya, ya…dengan semangat baru, sekarang selalu berusaha duduk paling depan. Tapi entah kenapa rasa kantuk itu selalu saja ada, aneh, wajar sih, akhir-akhir ini sudah jarang olahraga lari keliling dunia, eh…gym maksudnya.

Kalo diem dan dengerin dosen aja pasti ngantuk, yah…terpaksa mengalihkan aktivirtas, yang tadinya mendengarkan dosen, sekarang tambah sambil nulis ga jelas di buku kecil pemberian seseorang. Karena lagi kumat melownya, gak tau deg yang ditulisnya jelas apa gak, yang penting supaya gak ngantuk, mendingan nulis, tadinya mau nulis bahan yang dikuliahkan, tapi karena lagi TIMED OUT jaringannya, mending nulis yang laen aja deh.

Lagian, akhir-akhir ini perasaan sering ga enak, di hantui rasa takut tapi gak tau takut apa, perasaan jarang nonton hantu ngesot deh…hahaha… ada yang sedikit berubah dari diri yang saat ini, beberapa target terlalaikan, sering kelelahan gak jelas, tapi pas periksa kata ibu dokter yang di FMIPA, gak kenapa2, anemia juga gak, terus males makan pula.

kembali ke tulisan deh, setidaknya tulisan ini menggambarkan keadaan deni saat itu..

telaga

” Telaga itu terkadang mengering, lumutnya pun menghilang, tak lagi riak yang ada tapi air yang semakin kering hanya batu dasar yang tinggal, hanya pohon yang menyaksikan telaga saat itu. Mereka hanya dapat menatap airmata tandus dengan mengayunkan setiap daun kering untuk menemani telaga yang semakin sepi….Hanya harap yang ada dalam tanya yang hinggap. Kenapa tak ada air yang singgah walau hanya sebentar saja, tak lagi ikan yang tersenyum dalam kejernihannya, namun tulang-belulang rasa takut yang tersisa, Tak jua brurung yang mau lagi hadir utnuk sekedar mampir melepas hausnya rimba kehidupan. Entah kenapa semakin menyepi. Mentari semakin ganas dengan terangnya, menyeruak hari-hari yang semakin gersang baginya. Dahan pohon terus meranggas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap alam. Rumput pun mengering seakan setuju dengan apa yang dikatakan pepohonan itu, dan akhirnya ia pun terbakar.

Telaga kering itu membuat tanah menjadi tandus karena kesedihannya, tak lagi gagak yang biasanya memanggil, namun hanya gurun yang menyerupai hutan kering. Lagit semakin membiru, membentangkan kekuasaannya saat siang di genggamnya, dan kekosongan semakin mengisi hari-harinya. Layu tak lagi ketakutan, semakin kusam berselimut debu yang tertiup angin kepiluan, bukan bunga yang mekar tapi tanah yang terbelah retak.

Lama sekali senja itu tiba, menutup hari sang mentari yang makin merasa bangga, menyelimuti kepahitan dengan gelapnya langit malam. Menggantikan keangkuhan sang mentari dengan terang terang bulan yang redup menyejukkan. Tak mengapa hariku kering, kan kuganti dengan menatap terangnya, hingga saatnya tiba.

Walau ku tak tahu, Entah kapan sang langit merasa iba, hingga nampak mendungnya dalam kesedihan hampanya, meluapkan segala tangis sayangnya di balik terik sinar mentari, entah…..kapan? aku tak tahu, hanya harap yang kini tinggal di dasar relung telaga kering itu…”

Kini hanya harapku akan kembalinya segala keindahan hari-hariku, tapi aku tetap berusaha untuk tersenyum untuk duniaku…

::shinichi::


Responses

  1. dence lagi kenapa?? Ujiannya susah ya hehehehe

    ::shinichi:: : lagi melow phi…(baru nulis yang aneh-aneh) haha…. ujiannya gampang (jawabnya susah heh…), ada yang lebih berat dari Ujian Tengah Semester )…Ujian Hidup phi..hihi…

  2. Semangat Deni…. !

    ::shinichi:: : semangadh pagi…!!!! semoga uts bisa ada di titik aman…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: