Archive for November, 2008
Jangan Lemah, Masih Banyak Yang Kita Miliki

Adakalanya kelemahan dan keputusasaan itu muncul dalam diri kita, tentu saja karena ada alasan dan satu hal yang membuat rasa itu muncul. Tapi hebatnya adalah, saat kelemahan dan keputusaasaan tiu muncul, seakan ia menjadi pusat kendali dimana kekuatan kita berada dalam genggamannya, ia mampu megubah setiap mata yang bersinar menjadi redup, menjadikan telinga menjadi tertutup, saraf-saraf menjadi tak optimal hingga membuat koordinasi tubuh pun tak seimbang, bahkan tubuh yang begitu kuat pun menjadi begitu tak berdaya, sehingga semuanya menjadi tak begitu baik.
Banyak sekali fenomena yang bisa kita lihat, jangan terlalu jauh kita mencarinya, lihat saja diri kita, berapa kali kelemahan dan keputusasaan itu hadir dalam hari-hari kita, atau mungkin setiap hari kita merasakannya. Disadari atau tidak, ia berpengaruh besar dalam hidup kita, ia mampu membuat senyum menjadi tatapan sinis, ia mampu mengubah kebahagiaan yang seharusnya hadir menjadi hal yang tidak membahagiakan. Saat kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi, mendapat nilai yang kurang begitu bagus, atau ketika akademik kita terjun payung (baca: turun) dan hal-hal lain yang tidak pernah kita harapkan.
6 comments November 30, 2008
kuhembuskan terakhir kalinya…
kadang sulit sekali untuk memahami diri sendiri, bahkan aku lebih memahami orang lain di banding diriku yang selalu hadir dalam bayang hidupku. bukan karena tak tahu siapa diriku, bukan karena tak tahu apa yang kurang dan lebih dalam diriku, aku pun tahu kemana kaki harus kulangkahkan dalam menyusuri jalan hidupku. Aku tak ingin hariku terlewat seakan tak ada yang bermakna, bahkan hanya kesiaan yang kudapat..
biar hanya bungkam yang menjawab setiap kesunyian selama aku masih bernafas untuk terus istiqomah dijalanNya, aku tak ingin egois, mengejar kebaikan untuk diri sendiri, tak peduli dengan mereka yang ada si sekelilingku, aku tak ingin menjadi orang yang pura-pura buta tak melihat, pura-pura tuli dengan keadaan sekitarku, biar orang mengatakan aku hanya seorang pecundang yang memimpikan indahnya syurga,,, tapi ku yakin jalan ini lah yang kupilih, aku tak ingin menjadi orang yang terjatuh di jalan ini, aku tak ingin menjadi orang yang kecewa dengan jalan yang kupilih, karena Allah sajalah yang menjadi sandaran dan harapanku, bukan manusia yang mengajariku kebaikan, bukan manusia yang mengajakku kepada terangnya jalan ini, tapi DIAlah yang menjadi harapan dan tempat kusandarkan segala-galanya, sehingga takkan pernah aku kecewa, karena aku tak berharap kepada mereka yang disekelilingku.
Cukup sudah kudengar banyak mereka yang kecewa dengan jalan ini, entah apa yang diharapkan sehingga kekecewaan itu hadir, apakah karena mereka dan jalannya tak seindah apa yang diharapkan, sehingga ia kecewa. Jatuhlah ia, tak ada lagi rasa yang menjadi penguat, seperti halnya dulu ia berazzam, hanya ada ketidaksetujuan dan ketidakpedulian akhirnya, bukan…bukan…karena tak mengerti, tapi lelah dengan apa yang terjadi.
betapa bergeloranya semangat saat awal menyusuri jalan ini, begitu indahnya bersama menyusuri jalan, tapi kini hanya sendiri meninggalkan tawa dan senyum saat perjalanan itu dilalui…ia berhenti, entah karena tak ingin melhat indahnya senyum yang tersirat di wajah teman-teman seperjalanannya. Ya..seberapa dahaganya aku, lemah atau tak mampu aku melangkah, aku tak kan berhenti, aku takkan berpisah dengan mereka yang senantiasa bersama melangkah menjejaki setiap jengkal jalan terjal ini…
biarlah hanya Allah saja yang memutuskan, sampai nafas ini kuhembuskan terakhir kalinya, biarlah aku yang menanggung betapa beratnya jalan yang kupilih, karena aku tak sendiri, aku masih memilikiNya, Ia yang Maha Besar, dan dekat dengan ku melebihi urat nadiku..biarlah,,,
Saat kubuka jendeala kamarku disepertiga malamNya, kutatap lekat ke luar yang penuh dengan kabut yang senantiasa membuai setiap insan yang terlelap. kurasakan masih mengalir darah dalam nadiku, betapa segarnya udaranya, tapi begitu sulitnya kutitikan air mata syukurku padaNya, Ia yang telah membimbing aku menyusuri jalan ini, aku coba bersujud agar keangkuhan ini sirna, kerasnya hati mejadi lembut bersama air wudhu yang kutaburkan disetiap tetesnya, entah sulit sekali…di gelapnya sudut kamarku, kutatap lekat berharap Ia hadir memelukku erat, sehingga aku bisa menangis iba dipangkuannya, merasakan tenang dan luluhnya hati ini di hadapanNya, kuatatp langit-langit kamarku bersama untaian do’a yang menuai harap, mencoba mencari ketenangan tandusnya jiwa saat itu,,, teruntai do’a-do’a yang kupanjatkan, menanyakan pada hati, seangkuh apa dirimu, sehingga begitu sulitnya engkau luluh…
terdiam, hanya berharap ku bisa menangis di pelukkanNya, samapi aku tertidur kembali, dan tanpa kembali, sehingga tak ada waktu yang mengangguku…

::jejaksatria::
3 comments November 18, 2008
Self Development (4 fase penguatan diri)
12 Nopember 2008
::deni-shinichi::
pukul 19.30 WIB

Konsep diri yang seharusnya setiap orang memilikinya akan menjadi sebuah kekuatan yang mampu menjaga keteraturan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, baik secara keinternalan dalam diri kita atau dalam hubungan keseharian dengan lingkungan, mulai dari lingkungan terdekat bahkan yang asing bagi kita. Sebuah konsep yang mejadi kerangka akan terbentuknya sebuah sifat yang nantinya akan menjadi sebuah karakter yang melekat dalam behaviour seseorang, baik atau tidaknya performa yang akan muncul adalah hasil dari konsep diri yang dimilikinya, yang akan terlihat dari aktivitas dan tingkah laku, mulai dari cara berbicara, rangkaian kata yang nantinya akan menjadi sebuah kalimat yang akan diucapkan dan didengar oleh lawan bicara kita, sehingga orang yang berbicara dengan kita mampu menilai seperti apa dan bagaimana performa kita hanya dengan mendengar kata yang kita ucapkan, walaupun memang tidak secara general itu menjadi sebuah parameter. Kita akan bisa membandingkan, antara orang yang sedang lemah semangat dan gairah hidupnya dengan orang yang memiliki semangat dan motivasi yang tinggi, hanya dengan melihat secara dzohir, mulai dari saat dia berbicara, sikap dan lainnya, walaupun kita tidak bisa juga mengatakan bahwa orang yang terlihat diam adalah orang yang tidak punya semangat, atau sebaliknya, orang yang aktif dan banyak berbicara adalah orang yang bersemangat dan mempunyai motivasi yang tinggi. Tapi setidaknya sebagai manusia, kita mampu menilai secara objektif dari dengan sudut pandang yang berbeda, sehingga kesimpulan yang kita ambil bukan hanya sekadar dugaan atau bahkan tebakan.
3 comments November 13, 2008
jejak mimpi
Kadang mimpi kita hadir di setiap jejak waktu yang kita lewati, ia sekan menjadi penyemangat di hari-hari kita, auranya yang senantiasa menjadikan wajah cerah, ia seakan menjadi bayang nyata yang menemani langkah, meski ketika ku sentuh belum mampu ku genggam, tapi hanya menunggu waktu saja genggaman itu nyata, Sering rasanya ia menemani setiap waktu disaat muhasabahku tiba, tapi mimpi itu bukan khayalan kosong yang menjanjikan dunia yang kosong, mimpi itu menjadi penyemangat bagiku, disaat kelemahanku datang, entah kenapa, ia seakan menjadi nyata saat kutatap lekat, begitu dekat, sangat dekat.
Jalan panjang yang saat ini kita lalui adalah rangkaian klasik kehidupan yang akan terus menjadi jejak dalam episode hidup, banyak jalan yang harus kita pilih untuk mencapai tujuan akhir perjalanan kita, seperti halnya kita menyusuri lorong panjang yang gelap dan begitu banyak lorong yang ada dihadapan kita, namun semuanya sama “Gelap!!!”, mungkin kita berharap akan adanya cahanya yang setidaknya menerangi langkah kaki kita, walau hanya sebuah keremangan cahaya, tapi itu cukup untuk mmbuat kaki kita melangkah di kegelapan. Begitulah hidup kita, jalan itu banyak sekali, gelap dalam arti yang tersirat, tapi bukan berarti gelapnya jalan adalah kesesatan, namun semua itu hanyalah gambaran jalan untuk kita menggapai masa depan kita, ya..gelap, karena memang kita tidak tahu seperti apa dan menjadi apa kita di lembaran waktu yang belum kita singgahi. Layaknya sebuah lilin dalam gelapnya lorong, mimpi itulah yang setidaknya akan memberikan setitik cahaya untuk kita dapat melewati jalan yang gelap itu, ya…mimpi itu layaknya sebuah harapan yang senantiasa akan menyala dalam diri kita, ia tak kan pernah mati ketika kita nyalakan, kecuali karena keegoan yang ada pada diri kita yang akan membuatnya padam, mimpi itulah yang menjadi kekuatan setiap orang yang memilikinya.
Mimpi adalah kekuatan yang sangat dahsyat, mimpi bukanlah angan kosong, ia akan menajdi nyata saat kita mampu menjaga dan berusaha meyakinkan bahwa ia adalah sesuatu yang akan kita genggam suatu saat nanti…Kawan, milikilah mimpi dalam hidup kita, jangan biarkan ia padam dalam kehidupan ini, nyalakan ia kembali, karena ia adalah teman kita dalam setiap kesendirian kita…
bermimipilah…jadilah sang pemimpi layaknya judul sebuah novel yang menjadi pembangun jiwa…
::shinichi::
3 comments November 11, 2008
Telaga Itu Aku
waktu itu lagi kuliah AI, deni duduk di depan seperti biasanya, ya…dengan semangat baru, sekarang selalu berusaha duduk paling depan. Tapi entah kenapa rasa kantuk itu selalu saja ada, aneh, wajar sih, akhir-akhir ini sudah jarang olahraga lari keliling dunia, eh…gym maksudnya.
Kalo diem dan dengerin dosen aja pasti ngantuk, yah…terpaksa mengalihkan aktivirtas, yang tadinya mendengarkan dosen, sekarang tambah sambil nulis ga jelas di buku kecil pemberian seseorang. Karena lagi kumat melownya, gak tau deg yang ditulisnya jelas apa gak, yang penting supaya gak ngantuk, mendingan nulis, tadinya mau nulis bahan yang dikuliahkan, tapi karena lagi TIMED OUT jaringannya, mending nulis yang laen aja deh.
Lagian, akhir-akhir ini perasaan sering ga enak, di hantui rasa takut tapi gak tau takut apa, perasaan jarang nonton hantu ngesot deh…hahaha… ada yang sedikit berubah dari diri yang saat ini, beberapa target terlalaikan, sering kelelahan gak jelas, tapi pas periksa kata ibu dokter yang di FMIPA, gak kenapa2, anemia juga gak, terus males makan pula.
kembali ke tulisan deh, setidaknya tulisan ini menggambarkan keadaan deni saat itu..
” Telaga itu terkadang mengering, lumutnya pun menghilang, tak lagi riak yang ada tapi air yang semakin kering hanya batu dasar yang tinggal, hanya pohon yang menyaksikan telaga saat itu. Mereka hanya dapat menatap airmata tandus dengan mengayunkan setiap daun kering untuk menemani telaga yang semakin sepi….Hanya harap yang ada dalam tanya yang hinggap. Kenapa tak ada air yang singgah walau hanya sebentar saja, tak lagi ikan yang tersenyum dalam kejernihannya, namun tulang-belulang rasa takut yang tersisa, Tak jua brurung yang mau lagi hadir utnuk sekedar mampir melepas hausnya rimba kehidupan. Entah kenapa semakin menyepi. Mentari semakin ganas dengan terangnya, menyeruak hari-hari yang semakin gersang baginya. Dahan pohon terus meranggas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap alam. Rumput pun mengering seakan setuju dengan apa yang dikatakan pepohonan itu, dan akhirnya ia pun terbakar.
2 comments November 9, 2008
